Legenda Pulau Madura

Bangkalan. Trans 9. Lembaga pelestarian adat budaya Madura Barat Padepokan, tepatnya di jantung kota Jl. K.Abd. Karim No. 1 RT/RW 02/02 kelurahan Pangeranan Kecamatan Kota Kabupaten Bangkalan.

Sebelum di unggah awak media “TRANS 9” swan ke padepokan kesultanan Bangkalan ditemui Bapak R.P. Abd. Hamid Mustari Cakra Adiningrat menuturkan sangat santun dan bijaksana.

Tersebutlah sebuah kerajaan di atas pegunungan tengger bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh seorang raja bernama Prabu Giling Wesi. Prabu Giling Wesi mempunyai seorang putri bernama Raden Ayu Tunjung Sekar dan Patih yang bernama Patih Pranggulang.

Putri Tunjung Sekar tidak bersedia untuk menikah. Pada suatu malam, Putri Tunjung Sekar bermimpi, dia didatangi bulan purnama, Bulan tersebut masuk ke dalam tubuh Putri Tunjung Sekar. Ketika bagun tidur, Putri Tunjung Sekar bercerita kepada Inang pengasuhnya, Inang pengasuhnya mengatakan bahwa itu hanya bunga tidur.

Beberapa bulan kemudian, Putri Tunjung  Sekar hamil tanpa suami. Raja Prabu Giling Wesi marah besar dan memerintahkan Patih Pranggunlang untuk membunuh Putri Tunjung  Sekar sebagai hukuman atas dosanya.

Di dalam hutan, Putri Tunjung  Sekar meminta patih Pranggunlang untuk melaksanakan perintah Raja dengan syarat, apabila Putri Tunjung  Sekar tidak mati, berarti Putri Tunjung  Sekar tidak bersalah. Patih Pranggunlang segera menghunuskan pedangnya ke tubuh Putri Tunjung  Sekar samapi 3 kali. Namun pedang itu selalu jatuh sebelum mengenai tubuh Putri Tunjung  Sekar. Ternyata Putri Tunjung  Sekar tidak mati, karena dia tidak bersalah.

Kemudian Putri Tunjung  Sekar meninggalkan hutan itu dengan menaiki rakit untuk menyeberang laut dan sejak itu pula Patih Pranggunlang mengganti namanya menjadi Ki Poleng.

Berhari-hari lamanya rakit yang dinaiki Putri Tunjung  Sekar dibawa arus ke utara. Di tengah laut itulah Putri Tunjung  Sekar melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama “ Raden Sagara” yang berarti lautan.

Raden sagara dan ibunya sampai di pulau yang tak berpenghuni. Raden Sagara dan Putri Tunjung  Sekar menikmati madu, sehingga pulau itu diberi nama Madura yang berasal dari kata Maddu e ra-ara artinya madu di tanah daratan. Kemudian Putri Tunjung  Sekar bersama putranya di pulau itu. Setelah dewasa, Raden Sagara  naik tahta sebagai raja yang memerintahkan Pulau Madura. (HWN)

(Visited 5 times, 1 visits today)

Photo Gallery

© 2013 BeritaTrans9.com All rights reserved