Seminar In House Training Penanganan HIV/AIDS

aLAM

 

 

 

 

 

LAMONGAN, BERITA TRANS9 – Direktur Dr. Yuliarto. MM, Kes  serta ikut pula  Wakdir Pelayanan dan Penunjang Dr. Eko Budi Santoso SP,PD, Kepala bidang serta ada beberapa Dokter dan staf yang  hadir, dalam acara Seminar In House Traning , digedung Aula lantai 2 pada 7/11 RSUD Dr. Soegiri.

Dalam arahnya, pembukaan Seminar In House Training penanganan HIV/AIDS. Yuliarto mengatakannya dalam forum seminar  jika jajaran di RSUD Dr. Soegiri harus mampu mengimpelitasikan, meningkatkan kemampuan dalam menyusun langka-langka strategis dalam upaya penangulangan dan pecegahan.

Lebih lanjut, Dr. Murad dihadapan para jajaran menjelaskan jika dalam setiap rumah sakit dalam penangani pasien atau klien indetiknya HIV/AIDS harus mengikuti tatanan pelaporan tepat waktu lengkap, akurat dan syah.

“Dimana untuk pencatatan kegiatan PITC di layanan harus mengisi kreterial tersebut ,5 form. Untuk form 1 yakni buku kunjungan klien, form 2 untuk catatatan medis PITS, form 3 untuk informed consent, form 4 permintaan untuk pemeriksaan HIV di laborat, kemudian form 5 untuk lembar hasil pemeriksaan HIV,”menurutnya.

Disebutkan dalam acara itu, jika penyebaran infeksi HIV/AIDS  bukan hanya pada masalah medik penyakit menular tapi terfokus pada masalah kesehatan pada masyarakat dan bagaimana solusi penanganannya.

“Adapun untuk  halnya, program penanggulangan atau pencegahan HIV/AIDS bisa dengan pengamanan darah, komunikasi informasi dan edukasi sudah berjalan dengan baik. Tapi, program pelayanan dan dukungan masih terbatas, khususnya pada program konseling dan tes sukarela (VCT),” katanya

Masih menurut pejelasnya, jika konseling  mempunyai pengertian suatu proses membantu seseorang untuk belajar menyelesaikan masalah interpersonal, emosional dan memutuskan hal tertentu terutama menyangkut perkembangan virus mematikan tersebut

Konseling tersebut mempunyai komunikasi bersifat rahasia antara klien (pasien) dengan konselor, tujuannya untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stress dan mengambil keputusan yang berkaitan dengan HIV/AIDS

Dijelaskan kesimpulan itu, Dr. Eko Budi Santoso ,menjelaskan antara pasien terdampak dan tidaknya susah dibedahkan. Pihak menyebutkan jika saat pemeriksaan bisa jadi masalah dikategorikan negatif ,karena belum aktif body .

“ Dalam hal  tersebut bisa terdeteksi jika pasien yang mempunyai CD4 menurun antara lain  300 – 400 atau 100 – 200 itu akan mengenai jaringan syaraf kemudian muncul berbagai gejala seperti gatal – gatal, paru paru timbul infeksi dan akhirnya meninggal ,” ujar Dr. Eko.

Selanjutnya dari perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan, Dr. Bambang Susilo MM,Kes menyebut jika Lamongan terkait untuk perkembangan virus HIV/AIDS  masih tergolong mempunyai rapot merah.

Menurut beliau, hal tersebut bisa terdeteksi dari data di beberapa wilayah yang berasal dari tiap- tiap puskesmas di seluruh Lamongan, masih mempunyai catatan pasien yang terjangkit virus mematikan. “Jadi, semua harus waspada dan hati – hati,” penjelansannya

Adapun rapot merah tersebut bisa juga dari tim medis yang masih minim penguasaan terkait materi HIV/AIDS. Sementara kami sudah mengirim jajaran dari puskesmas Kecamatan Lamongan, Turi, dan Mantup untuk mengikuti konseling di Surabaya. (adv/rdi)

(Visited 67 times, 1 visits today)

Photo Gallery

© 2013 BeritaTrans9.com All rights reserved